Way Kambas Video Trap

Enjoy the Way Kambas National Park endangered mega fauna and other rare wildlife species caught in video. Find mother and baby of Sumatran rhino, challenging young male Sumatran tiger, big family of Sumatran elephant, funny Malayan sun-bear and curious Malayan tapir.

Way Kambas: The Best Asian Night Birding

It was written by Janos Olah & Attila Simay in Birding Asia magazine, on 2007. Not only the great variety of the otherwise scarce and hard to-come-by species is what makes this national park world-famous, but also the relative ease in finding them. No other place in sumatra that has 4 species of Frogmouth.
Showing posts with label Bird watching. Show all posts
Showing posts with label Bird watching. Show all posts

Wednesday, April 20, 2022

 Oleh: Salih Alimudin & Rizky Novia Sari


Taman Nasional Way Kambas (TNWK) adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi. TNWK memiliki potensi bentang alam maupun potensi keanekaragaman hayati untuk melakukan kegiatan ekowisata, salah satu lembaga yang berfokus dalam program ekowisata di TNWK adalah Aliansi Lestari Rimba Terpadu. ALeRT melalui program Konsorsium UNILA-ALeRT selama tahun 2019-2021 melakukan pendampingan rutin, pelatihan, dan uji coba paket wisata berupa materi dan praktik manajemen kegiatan wisata, teknik guiding, pengamatan burung, pengamatan mamalia, dan pengamatan herpetofauna terhadap masyarakat desa penyangga TNWK yang disiapkan untuk memandu wisatawan minat khusus.

Kegiatan Ekowisata di TNWK banyak dilakukan pada sepanjang jalur Plang Ijo – kantor Resort Way Kanan SPTN I Way Kanan. Wisatawan yang datang dapat melakukan jungle trekking, pengamatan satwa liar (wildlife watching), dan Bird watching (Gambar 1).

Gambar 1. Bird watching di jalur Plang Ijo - Resort Way Kanan


Selain itu wisatawan dapat menikmati susur sungai (river cuise) di sepanjang sungai Way Kanan, paket-paket ini banyak diminati terutama oleh wisatawan mancanegara yang memiliki special interest (Gambar 2).

Gambar 2. Susur sungai di sungai Way Kanan, TNWK

Lokasi lain yang sering menjadi tujuan wisatawan mancanegara adalah area Reforestasi Rawa Bambangan, SPTN III Kuala Penet. Lokasi ini merupakan salah satu lokasi reforestasi seluas 50 Hektare (ha) yang dikelola oleh Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) bersama Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang melibatkan masyarakat penyangga sejak tahun 2012 hingga saat ini. Reforestasi Rawa Bambangan memberikan dampak positif baik membantu memulihkan ekosistem yang terdegradasi, menyediakan sumber pakan bagi satwa dan mencegah terjadinya kebakaran hutan. Dampak suksesi alami dengan adanya kegiatan ini mencapai 500 ha.


Di area Reforestasi Rawa Bambangan tersedia paket ekowisata minat khusus seperti adopsi pohon, jungle trekking, dan pengamatan burung (bird watching) (Gambar 3).

Gambar 3. Jungle trekking  dan bird watching  di area Reforestasi Rawa Bambangan


Ketersediaan daya tampung inap yang terbatas mendorong Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) untuk melakukan pembangunan fasilitas pendukung berupa tented camp berukuran 10 x 6 meter dengan daya tampung 4-6 orang yang dilengkapi fasilitas pendukung berupa tempat tidur, toilet dan kamar mandi dalam rangka mendukug kegiatan ekowisata minat khusus di area Reforestasi Rawa Bambangan melalui pendanaan Tropical Forest Conservation Action for Sumatra (TFCA-Sumatera) dalam program Konsorsium UNILA-ALeRT (Gambar 4).

Gambar 4. Ruang inap tented camp reforestasi Rawa Bambangan

Wisatawan yang datang akan disediakan pilihan menu sarapan, makan siang dan dapat mengambil paket barbeque pada malam hari (Gambar 5).

Gambar 5. Pilihan menu sarapan di Tented Camp reforestasi Rawa Bambangan
 

Program ekowisata minat khusus yang ada beserta fasilitas pendukungnya diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kegiatan konservasi yang berkelanjutan di TNWK.

 

Info lebih lanjut dapat menghubungi:

Email:    alertwaykambas@gmail.com

                Waykambas.np@gmail.com

               

Kontak: 0853-6885-2243 (Infokom ALeRT)

              0725-7646-010 (Call Center TNWK)


Thursday, March 5, 2020




Oleh Rizky Novia Sari - Wildlife Warrior

Terimakasih atas pengalaman dan ilmu serta kebaikan-kebaikan yang sudah saya terima, Saya Rizky, ini waktunya saya bercerita tentang keluarga baru saya: ALeRT.

Dua bulan menjadi peserta magang di Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dalam program WILDLIFE WARRIOR-TFCA Sumatera, banyak pengalaman yang didapatkan selama mengikuti agenda ALeRT. Mulai dari kegiatan-kegiatan utama ALeRT, sampai dengan hal-hal tak terduga yang meninggalkan kesan tak terlupakan. 
Kedatangan saya disambut dengan baik oleh staf-staf ALeRT yang sangat friendly, humoris dan suasana kekeluargaan yang sangat terasa. Personil ALeRT berjumlah 26 orang terdiri dari 8 staf kantor dan 18 staf lapangan yang disebut RMU (Rhino Monitoring Unit) (2 tim trajectory dan 2 tim camera trap). Kegiatan Tim RMU terdiri dari survey trajectory dan pemasangan camera trap untuk memperoleh informasi keberadaan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di TNWK. Kegiatan survey dan monitoring dilakukan 1 sampai 3 kali trip dalam waktu satu bulan dengan durasi 5 sampai dengan 7 hari. Survey dan monitoring badak sumatera adalah salah satu program utama ALeRT saat ini.

Sebelum melakukan survey dan monitoring badak, terlebih dahulu mengajukan permohonan Surat Perintah Tugas (SPT) di Kantor Balai TNWK. Setelah itu tim harus membuat rencana survey (ROP) berdasarkan peta kerja, mulai dari keberangkatan sampai dengan pulang. Perencanaan tersebut bertujuan agar kegiatan survey dan monitoring yang dilakukan lebih terjadwal dan terarah. Selama magang, saya sudah pernah mengikuti rangkaian kegiatan suplai air. Suplai air dilakukan karena kondisi di hutan yang masih kekeringan akibat kemarau panjang. Saat mengikuti kegiatan tersebut saya menjadi tahu bagaimana kondisi tim di hutan saat kemarau dan kekurangan air (Gambar 1.).

Gambar 1. Kegiatan suplai air untuk kegiatan survey dan monitoring


Kegiatan survey dan monitoring yang dilakukan oleh tim terdiri dari survey trajectory dan pemasangan camera trap. Survey dilakukan untuk memperoleh tanda-tanda sekunder keberadaan badak seperti jejak, bekas pakan dan kotoran. Pemasangan camera trap bertujuan untuk mengidentifikasi dan memontoring satwa secara terus-menerus tanpa mengganggu keberadaan serta aktivitas satwa. Tim RMU melakukan pemasangan camera trap berdasarkan temuan tanda-tanda sekunder badak selama survey trajectory. Kondisi populasi badak sumatera sangat mengkhawatirkan, sampai saat ini ALeRT sedang terus berusaha untuk menemukan tanda-tanda keberadaan badak sumatera.

Setelah selesai melakukan kegiatan survey dan monitoring, tim membuat laporan database hasil temuan selama dilapangan dan mengidentifikasi jenis-jenis satwa yang tertangkap camera trap. Saya sangat excited ketika melihat harimau dan satwa-satwa lain yang tertangkap camera trap  (Gambar 2.). Laporan database dan identifikasi hasil camera trap diserahkan ke staf database untuk selanjutnya data diinput dalam SMART Patrol. Saya banyak belajar mengenai SMART Patrol bersama staf database untuk menganalisis data hingga menghasilkan output berupa laporan SMART Patrol. Laporan SMART Patrol diserahkan kepada pihak Balai Taman Nasional Way Kambas.

Gambar 2. Kegiatan analisis hasil camera trap

Kegiatan lain yang telah saya ikuti di ALeRT yaitu inisiasi rencana pengelolaan kegiatan wisata minat khusus di TNWK. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperkenalkan paket wisata yang berada di TNWK dan untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif dalam mendukung wisata yang berkelanjutan di desa penyangga. Setelah inisiasi, kemudian dilakukan uji coba paket wisata minat khusus. Kegiatan uji coba ini memperkenalkan kepada saya akan potensi-potensi yang berada di TNWK yang begitu indah dan memiliki keunikan tersendiri. Paket wisata yang ditawarkan saat uji coba yaitu Edukasi Gajah di ERU (Elephant Response Unit), kunjungan ke PLG (Pusat Latihan Gajah), Reforestasi Bambangan, birdwatching serta pengamatan satwa dan Susur Sungai Way Kanan (Gambar 3.). Setiap kawasan konservasi memilki keunikan tersendiri termasuk TNWK. Menurut saya paket wisata yang ditawarkan di TNWK sangat unik dan edukatif. 

Gambar 3. Kegiatan birdwatching 

Menjelang minggu terakhir saya di ALeRT, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan pengecekan camera trap di Resort Rawa Bunder bersama tim kolaborasi RMU-ALeRT dengan Rhino Protection Unit (RPU)-YABI. Kegiatan ini berlangsung selama 4 hari dengan jumlah stasiun sebanyak 16 stasiun camera trap. Kegiatannya terdiri dari pengecekan kondisi kamera, kondisi baterai, penggantian card memory, setting camera trap, pengukuran jarak dan ukuran objek sasaran di depan camera trap sampai dengan pemasangan camera trap kembali (Gambar 4.). 

Gambar 4. Kegiatan pengecekan camera trap

Banyak pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan selama mengikuti kegiatan ini, salah satunya menjadi navigator dalam mencari titik camera trap yang telah terpasang sekaligus membuka jalur. Rasa-rasanya seperti mencari harta karun saat kami mencari titik keberadaan camera trap. Kami juga harus melewati beberapa anak sungai dengan batas kedalaman sampai dengan bahu dan arus yang lumayan deras. Di hari pertama kami melakukan pengecekan 6 stasiun dengan kondisi pakaian yang basah karena kami harus menyeberangi beberapa anak sungai dan melewati genagan-genangan yang kami temui (Gambar 5). Luarr biasaa!!

Gambar 5. Kondisi rona lingkungan di sekitar lokasi pengecekan camera trap

Di hari pertama juga kami dikejutkan oleh salah satu staf RMU yang hampir hanyut saat menyeberangi anak sungai dengan arus yang cukup deras. Awalnya kami menganggap hanya bercanda karena orangnya memang sangat humoris sering bercanda (ngeprankk). Saat dia benar-benar akan hanyut dan meminta tolong “ hee heee tenan iki aku kanyuttt...tulungg caaaaah” seketika kita menariknya ke tepi, konyol sekaliii wkkwkwkk...Keseruan lain saat dilapangan, ketika diantara kami ada yang tersandung ataupun terjatuh karena akar atau semak, anggota tim lainnya seperti bunyi suara bell yang otomatis akan berbunyi dan menghitung ”satuu, duaaa, tigaaa, empaaat,...” dan seketika kami yang terjatuh akan langsung bergegas untuk berdiri. Gokiil sih, jatuh bukannya ditolong tapi malah dihitung wkwkwkk. Gurauan dan candaan selama berjalan mencari camera trap sangat mengobati lelah kami. Ada saja hal yang buat kami bisa tertawa selama dilapangan. 

Rasa kekeluargaan yang sangat terasa selama saya berada di ALeRT. Waktu sore hari setelah saya dan tim selesai mengidentifikasi hasil camera trap, saya mendapatkan kabar duka bahwa bude saya telah meninggal dunia. Sontak saya tidak bisa membendung kesedihan saat mendengar kabar tersebut. Saat itu juga staf yang masih berada dikantor mengantarkan saya menuju rumah untuk bertakziah. Jika teringat hal itu saya sangat terharu dengan mereka yang sudah menganggap seperti keluarga sendiri. Hal lain yang membuat saya speechlees, saat saya dan staf lapangan bermain di PLG (Pusat Latihan Gajah) ada insiden terceburnya hp milik saya heheee.... Saat itu kami sedang duduk dipinggir kolam gajah sembari menunggu gajah-gajah yang akan mandi. Ada salah satu rekan yang meminta untuk pindah tempat, sontak kami berdiri daaaannnnn... terjunlah hp ke kolam gajah dari kantong celana. Tanpa berfikir panjang mereka pun menyelami kolam gajah yang berwarna coklat dan lumayan banyak kotoran gajah, walaupun pada akhirnya hp tidak dapat terselamatkan heheee....

Terimakasih banyak untuk seluruh staf ALeRT Way Kambas yang sudah seperti keluarga sendiri. Terimakasih atas pengalaman dan ilmu serta kebaikan-kebaikan yang sudah saya terima. Saya berharap semoga lembaga-lembaga konservasi yang ada terutama ALeRT, tetap semangat menjaga, melindungi dan melestarikan hutan beserta isinya agar anak cucu kita dapat menikmatinya. Semoga dengan adanya kami Wildlife Warrior bisa membantu upaya konservasi hutan Indonesia menjadi lebih baik lagi.
Salam Lestari!






































Thursday, February 13, 2020


Oleh Resti Ati Lestari


Awal Januari 2020 merupakan suatu hari yang sangat membahagiakan bagi saya karena saya diberikan kesempatan oleh Pundi Sumatera untuk dapat mengikuti kegiatan magang dalam program TFCA Wildlife Warrior.  Saya mendapatkan lokasi penempatan magang di salah satu mitra TFCA-Sumatera yang bernama ALeRT (Aliansi Lestari Rimba Terpadu).  Sebelumnya saya dan teman saya sempat merasa takut dan canggung saat pertama kali tiba di kantor ALeRT, tetapi saya sangat bersyukur karena kami disambut baik oleh staff ALeRT.  Orang-orang yang berada di ALeRT sangat friendly, dan  welcome dengan kehadiran kami.

Selama saya menjalani kegiatan magang disini, banyak sekali kegiatan yang saya ikuti salah satunya adalah program kerja ALeRT di bidang ekowisata.  Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Tim ekowisata ini adalah Uji Coba Wisata Minat Khusus di Taman Nasional Way Kambas yang diselenggarakan oleh Konsorsium Unila-ALeRT pada tanggal 31 Januari-3 Februari 2020

Banyak rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dan dipersiapkan sebelum kegiatan ini berjalan salah satunya yaitu melakukan koordinasi dengan tim ekowisata dan pemandu wisata melalui rapat fiksasi Kegiatan Uji Coba Paket Wisata Minat Khusus di Rumah Konservasi, Dusun Margahayu. Selesai rapat fiksasi, saya bersama dengan yang lain menuju ke Homestay untuk melakukan pengecekan homestay untuk peserta selama kegiatan ini berlangsung.  Malam harinya, saya ikut menyiapkan semua daftar nama peserta yag hadir, waktu kedatangan, pembagian homestay, berita acara, dan melakukan konfirmasi kehadiran dan kesediaan peserta.

Tanggal 31 Januari 2020, hari pertama kegiatan uji coba ini adalah registrasi peserta dan briefing (Gambar 1). Peserta yang hadir pada hari pertama kegiatan berjumlah 13 orang dan pemandu berjumlah 12 orang.  Peserta yang datang dengan menggunakan kendaraan umum dijemput oleh pemandu yang bertanggung jawab menjemput peserta di pasar Tridatu, kemudian membawa peserta untuk berkumpul pada metting point yang telah ditentukan sebelumnya yaitu Homestay Bela (Labuhan Ratu IX).  Setelah semua peserta berkumpul, masing-masing pemandu yang telah ditunjuk untuk mendampingi peserta mengantarkan peserta ke masing-masing homestay yang telah disediakan.

Gambar 1.  Kegiatan Briefing Bersama Peserta

Pada hari kedua, saya melakukan kunjungan ke Elephant Response Unit (ERU) Margahayu (Gambar 2), Reforestasi Bambangan dan Pusat Latihan Gajah.

Gambar 2.  Kunjungan ke Elephant Response Unit (ERU) Margahayu

Aktivitas yang kami lakukan di ERU Margahayu adalah mendengarkan pemaparan tentang sejarah terbentuknya ERU, diskusi bersama dengan Tim ERU yang biasa menangani konflik antara gajah dengan manusia. Di ERU, kami berkesempatan bertemu dengan salah satu gajah ERU bernama Rendi dan kemudian para peserta ikut memandikan dan memberikan makan gajah (Gambar 3).

Gambar 3.  Memberikan Makan Gajah Rendi

Selanjutnya kami melakukan kunjungan ke Reforestasi Bambangan (Gambar 4).  Di areal reforestasi tersebut kami melakukan penanaman 30 bibit pohon (Gambar 5).  Jenis bibit yang ditanam diantaranya adalah ketapang (Terminalia cattapa), medang (Cinnamomum sp), jambon (Neolamarckia cadamba), sirsak (Annona muricata), salam (Syzygium polyanthum), dan lamtoro (Leucaena leucocephala).

Gambar 4.  Kunjungan ke Reforestasi Bambangan 

Gambar 5.  Penanaman Bibit Pohon di Reforestasi Bambangan

Kunjungan terakhir kami adalah menuju Pusat Latihan gajah.  Disana kami pergi untuk mengunjungi ladang pakan gajah, kunjungan ke kandanga gajah kecil, memberikan pakan gajah (Gambar 6), dan melihat gajah dimandikan (Gambar 7).

Gambar 6.  Peserta Memberikan Makan Gajah

Gambar 7.  Melihat Gajah Mandi di Pusat Latihan Gajah

Hari ketiga, kami melanjutkan uji coba paket wisata birdwatching yang dilakukan disepanjang jalur Way Kanan (Gambar 8).  Kegiatan dimulai sejak pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB.  Hal ini dikarenakan waktu ideal untuk melakukan Birdwatching adalah pada pagi hari sekitar pukul 06.00-09.00 atau sore hari sekitar pukul 15.00-17.00 dimana pada waktu-waktu tersebut burung-burung sedang dalam keadaan aktif mencari makan.  Selama melakukan kegiatan birdwatching, terdapat beberapa jenis burung yang kami temui seperti burung pelatuk merah (Banded woodpecker), burung cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), burung cinenen merah (Orthotomus sericeus), burung srigunting hitam (Black drongo), paok panca warna (Javan banded pitta), burung malkoha (Phaenicophaeus) dan Tupai tiga warna (Callosciurus prevostii).





Gambar 8.  Kegiatan Birdwatching di Sepanjang Jalur Way Kanan

Selesai melakukan birdwatching, kegiatan dilanjutkan ke paket wisata susur sungai Way Kanan sekaligus pengamatan satwa liar.  Kegiatannya dimulai dari dermaga Way Kanan hingga daerah yang disebut Kalibiru. Terdapat beberapa satwa yang kami temui seperti buaya muara (Crocodylus porosus) (Gambar 9),

Gambar 9.  Buaya Muara (Crocodylus porosus) di Sungai Way Kanan

serta jenis-jenis burung seperti Sriti (Collocalia esculenta), Cekakak sungai (Todiramphus chloris), Pelatuk sayap merah (Picus puniceus), kokoan laut (Butorides sriatus) (Gambar 10), elang ikan kepala kelabu (Ichtyophaga ichtyaetus) (Gambar 11) , Cangak laut (Ardea sumatrana) (Gambar 12).

Gambar 10.  Kokoan Laut (Butorides sriatus)


Gambar 11.  Elang Ikan Kepala Kelabu (Ichtyophaga ichtyaetus)

Gambar 12. Cangak laut (Ardea sumatrana)

Tanggal 3 Februari 2020, adalah hari terakhir dari rangkaian kegiatan uji coba paket wisata minat khusus di TNWK. Aktivitas yang dilakukan di hari terakhir ini adalah mengantarkan peserta yang pulang dengan kendaraan umum ke tempat pemberhentian bus dan kemudian melakukan evaluasi bersama dengan koordinator kegiatan, tim ekowisata dan pemandu membahas tentang kegiatan yang telah dilakukan.

Selama 4 hari terlibat dalam kegiatan ini, saya merasa kegiatan ini memberikan pengalaman dan juga kesan yang baik.  Selama kegiatan, saya banyak belajar bagaimana menghadapi orang-orang dengan berbagai karakteristik, banyak belajar tentang birdwatching dan pengamatan satwa liar.  Hal yang paling berkesan adalah ketika saya mengikuti kegiatan susur sungai way kanan.  Saya dapat berjumpa dengan ayam hutan (Galus galus) ketika perjalanan menuju dermaga Way Kanan (Gambar 13) dan semua excited ketika berjumpa langsung dengan buaya muara sepanjang 4-5 meter dan berbagai jenis burung yang ada di sepanjang sungai yang disusuri.

Gambar 13.  Ayam Hutan (Galus galus)

Harapan saya sebagai seseorang yang pernah ikut terlibat dalam kegiatan ini adalah kedepannya bisa diselenggarakan lagi kegiatan wisata minat khusus ini dengan diikuti oleh peserta yang terpilih dan lebih berkompeten di bidangnya sehingga akan lebih banyak masukan yang membangun untuk kemajuan ekowisata di Taman Nasional Way Kambas.

Tuesday, July 29, 2014

Sejumlah 2 kelompok keluarga mentok rimba (Cairina scutulata) dengan masing-masing 3 dan 5 ekor anak diobservasi sepanjang aktivitas survey lahan basah 2012. Catatan berkala dari grup (2-7 ekor) yang menunjukkan mentok rimba keluar dari batas Taman Nasional menuju sawah dan kebun buah merupakan data penting mengenai perilaku dan pergerakan mentok rimba di Taman Nasional Way Kambas.

Pada musim kemarau (Agustus-Oktober) dimana banyak rawa dan sungai mengering, kami mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melihat mentok rimba. Tempat apapun dekat dengan sarang tanah mereka yang masih terdapat air merupakan tempat potensial untuk menjumpai burung ini. Mentok rimba mengerami telurnya sekitar bulan Januari-April. Pada bulan September, kami melihat 2 kelompok mentok muda di rawa Bambangan dan rawa Ulung-Ulung. Mentok-mentok muda ini dikenali berumur lebih dari 4 bulan, ditandai dengan bintik hitam di leher mereka yang sudah hampir semua berubah warna menjadi bulu putih. Mentok muda di Ulung-Ulung sudah berpisah dengan keluarganya, sedangkan yang ada di Bambangan belum.

Secara umum tahun ini kami mencatat data yang lebih banyak mengenai populasi dan pergerakan mentok rimba. Hal yang menjadi kekhawatiran terbesar adalah fakta bahwa habitat primer mereka masih sangat terganggu oleh aktivitas memancing illegal, juga beberapa grup mentok rimba yang secara rutin keluar Taman Nasional, mendekati pemukiman masyarakat, akan meningkatkan ancaman hidup mereka.


Artikel dan foto: Dicky T. Sutanto

Monday, July 28, 2014


Mostly, bird-watchings are best practice in the morning. Since the beginning of the first sunlight, many birds are already starting their activities.

As the sun rising higher on the top of canopies, larger sized of bird start to fly across. In the morning, Eagles, Hornbills, or Storks, seen only having a short slide and flying from tree to tree. As the air warmed by the sun, their feathers become dry, and the hot air stream become some kind of surf -board that helps the bird large body to rise and fly high. They are then, so called as ‘master of the sky’.

But as the sunset down on the west, light out and the air getting colder, it’s turn for the “flying night-predator” to takes over. The limited species number of the night bird and their nocturnal behavior makes them as rare and mysterious creatures. Their ability to hunt in the dark, their odd body shape and sound, many times has halt back people step.  In Indonesia, they are called as “Burung Hantu”, means the ghost bird. Scary thoughts are that entire crossing for those who don’t know how wonderful they are actually.
Article and photo below: Dicky T. Sutanto
Photo above: Marcellus Adi CTR

To meet special bird with their special behavior, require special information and extra preparations. Bellow some tips to increasing the night bird encounter probability in Way Kambas National Park :

• Most of the night bird can be encountered on the main jeep track from Plang Ijo to Way Kanan.
• Dusk and Dawn are the best time for observing the nightjars and scops-owls.
• On 10 pm up to 4.30 am, is the best time for Frogmouths and Oriental Bay Owl.
• It’s better to bring a flash light/torch and turn it on only on the right time (keep a minimum disturbance for the bird). A night bird recorded sound and a mini loud speaker can be used to attract the bird to get near.

Well than, please make sure that any time during your visit to Way Kambas NP, spare some of your time to have a sensational night-birding experience, as our way to appreciate our passion for the biodiversity of Indonesia


Article and photos by Dicky T. Sutanto



Way Kambas National Park, Sumatra, Indonesia is the best Asian night-birding, is a quote that written by Janos Olah & Attila Simay in Birding Asia magazine, on 2007. Not only the great variety of the otherwise scarce and hard to-come-by species is what makes this national park world-famous, but also the relative ease in finding them. No other place in Sumatera that has 4 species of Frogmouth, and also the Bonaparte’s Nightjar (Caprimulgus concretus). In KUKILA bulletin, volume 8, 1996, it was mention that the record of Bonaparte’s Nightjar in Way Kambas as the first record of this species after the last record of this species in Sumatera, on 1916.

A compilation by Sherry Parrot & Paul Andrew, in KUKILA bulletin, volume 8, 1996, listed the WKNP night bird, as below:

Owls:
Oriental Bay Owl (Phodilus badius), Reddish Scopsowl (Otus rufescens), Barred Eagle-Owl (Bubo sumatranus), Buffy Fish-Owl (Ketupa ketupu), Brown Wood-Owl (Strix leptogrammica), Collared Scopsowl (Otus lempiji), Brown Hawk-Owl (Ninox scutulata).

Frogmouths:
Large Frogmouth (Batrachostomus auritus), Gould’s Frogmouth (Bataraachostomus stellatus), Javan Frogmouth (Brathachostomus javensis), Sunda Frogmouth (Brathachostomus cornutus).

Nightjars:
Bonaparte’s Nightjar (Caprimulgus concretus), Malaysian Eared Nightjar (Eurostopodus temminckii), Large-Tailed Nightjar (Caprimulgus macrurus), Savannah Nightjar (Caprimulgus affinis).


Article and photos by Dicky T. Sutanto