Way Kambas Video Trap

Enjoy the Way Kambas National Park endangered mega fauna and other rare wildlife species caught in video. Find mother and baby of Sumatran rhino, challenging young male Sumatran tiger, big family of Sumatran elephant, funny Malayan sun-bear and curious Malayan tapir.

Way Kambas: The Best Asian Night Birding

It was written by Janos Olah & Attila Simay in Birding Asia magazine, on 2007. Not only the great variety of the otherwise scarce and hard to-come-by species is what makes this national park world-famous, but also the relative ease in finding them. No other place in sumatra that has 4 species of Frogmouth.
Showing posts with label News. Show all posts
Showing posts with label News. Show all posts

Wednesday, April 20, 2022

 Oleh: Salih Alimudin & Rizky Novia Sari


Taman Nasional Way Kambas (TNWK) adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi. TNWK memiliki potensi bentang alam maupun potensi keanekaragaman hayati untuk melakukan kegiatan ekowisata, salah satu lembaga yang berfokus dalam program ekowisata di TNWK adalah Aliansi Lestari Rimba Terpadu. ALeRT melalui program Konsorsium UNILA-ALeRT selama tahun 2019-2021 melakukan pendampingan rutin, pelatihan, dan uji coba paket wisata berupa materi dan praktik manajemen kegiatan wisata, teknik guiding, pengamatan burung, pengamatan mamalia, dan pengamatan herpetofauna terhadap masyarakat desa penyangga TNWK yang disiapkan untuk memandu wisatawan minat khusus.

Kegiatan Ekowisata di TNWK banyak dilakukan pada sepanjang jalur Plang Ijo – kantor Resort Way Kanan SPTN I Way Kanan. Wisatawan yang datang dapat melakukan jungle trekking, pengamatan satwa liar (wildlife watching), dan Bird watching (Gambar 1).

Gambar 1. Bird watching di jalur Plang Ijo - Resort Way Kanan


Selain itu wisatawan dapat menikmati susur sungai (river cuise) di sepanjang sungai Way Kanan, paket-paket ini banyak diminati terutama oleh wisatawan mancanegara yang memiliki special interest (Gambar 2).

Gambar 2. Susur sungai di sungai Way Kanan, TNWK

Lokasi lain yang sering menjadi tujuan wisatawan mancanegara adalah area Reforestasi Rawa Bambangan, SPTN III Kuala Penet. Lokasi ini merupakan salah satu lokasi reforestasi seluas 50 Hektare (ha) yang dikelola oleh Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) bersama Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang melibatkan masyarakat penyangga sejak tahun 2012 hingga saat ini. Reforestasi Rawa Bambangan memberikan dampak positif baik membantu memulihkan ekosistem yang terdegradasi, menyediakan sumber pakan bagi satwa dan mencegah terjadinya kebakaran hutan. Dampak suksesi alami dengan adanya kegiatan ini mencapai 500 ha.


Di area Reforestasi Rawa Bambangan tersedia paket ekowisata minat khusus seperti adopsi pohon, jungle trekking, dan pengamatan burung (bird watching) (Gambar 3).

Gambar 3. Jungle trekking  dan bird watching  di area Reforestasi Rawa Bambangan


Ketersediaan daya tampung inap yang terbatas mendorong Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) untuk melakukan pembangunan fasilitas pendukung berupa tented camp berukuran 10 x 6 meter dengan daya tampung 4-6 orang yang dilengkapi fasilitas pendukung berupa tempat tidur, toilet dan kamar mandi dalam rangka mendukug kegiatan ekowisata minat khusus di area Reforestasi Rawa Bambangan melalui pendanaan Tropical Forest Conservation Action for Sumatra (TFCA-Sumatera) dalam program Konsorsium UNILA-ALeRT (Gambar 4).

Gambar 4. Ruang inap tented camp reforestasi Rawa Bambangan

Wisatawan yang datang akan disediakan pilihan menu sarapan, makan siang dan dapat mengambil paket barbeque pada malam hari (Gambar 5).

Gambar 5. Pilihan menu sarapan di Tented Camp reforestasi Rawa Bambangan
 

Program ekowisata minat khusus yang ada beserta fasilitas pendukungnya diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kegiatan konservasi yang berkelanjutan di TNWK.

 

Info lebih lanjut dapat menghubungi:

Email:    alertwaykambas@gmail.com

                Waykambas.np@gmail.com

               

Kontak: 0853-6885-2243 (Infokom ALeRT)

              0725-7646-010 (Call Center TNWK)


Monday, April 9, 2018


 
Taman Nasional (TN) merupakan suatu kawasan yang keberadaannya tak lain adalah untuk mewujudkan kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya tujuan pembangunan suatu TN secara umum adalah untuk melindungi proses ekologis yang menunjang kehidupan, mengawetkan keanekaragaman ekosistem, spesies dan genetik yang terdapat di dalamnya serta memanfaatkan potensi sumberdaya alam hayati untuk kepentingan penelitian, pendidikan, penunjang budi daya, rekreasi, dan pariwisata. Dalam tujuan tersebut keberadaan dan peran masyarakat sekitar menjadi komponen penting sebagai penyokong tercapainya kegiatan konservasi di TN.

Upaya perlindungan yang dilakukan pemerintah terhadap suatu kawasan konservasi telah melahirkan berbagai kebijakan dari waktu ke waktu, tata pengelolaannya pun mengalami perubahan menyesuaikan kebijakan yang berlaku. Seperti perubahan dari kawasan pelestarian alam, kemudian menjadi kawasan suaka marga satwa, dan beralih menjadi taman nasional. Perubahan sistem tersebut mengarah kepada pembatasan terhadap akses sumber daya alam hayati dan ekosistem yang ada dalam suatu kawasan. Perubahan tersebut rupanya tak melulu membawa dampak positif, tetapi juga menimbulkan permasalahan. Mulai dari pro kontra masyarakat sekitar dengan pihak pengelola, yang berimplikasi pada pengelolaan TN menjadi kurang efektif, hingga kabar konflik yang terjadi antara manusia dengan satwa. Permasalahan tersebut juga terjadi di kawasan koservasi, Taman Nasional Way Kambas (TNWK).



Pemasangan sirine sebagai alat deteksi dini keberadaan gajah di areal pertanian


Konflik antara gajah dan manusia (KGM) di TNWK telah lama terdengar dan masih terjadi hingga saat ini. Perebutan ruang gerak dan palatabilitas gajah diperkirakan menjadi salah satu faktor penyebab terus terjadinya konflik ini. Kondisi dan letak TNWK yang dikelilingi dan berbatasan langsung dengan 37 desa penyangga turut menjadi faktor meningkatnya frekuensi KGM di TNWK. Masyarakt desa penyangga yang sebagian besar bermatapencaharian sebagian petani harus selalu siaga dan memutar otak untuk mencukupi kebutuhan harian ketika hasil panen yang mereka andalkan telah habis dilahap gajah. Penghalauan dengan peralatan tradisional pun telah
dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk menjaga tanaman mereka dari gangguan gajah. Pembuatan kanal, pengadaan peralatan jaga, pembuatan gubuk jaga, hingga patroli malam hari diperbatasan kawasan masih belum bisa menyelesaikan permasalah ini.

Pemasangan drum putar di jalur aktif gajah menuju areal pertanian




Ditambah lagi dengan maraknya aktivitas illegal dan kebakaran hutan yang terjadi sepanjang tahun di TNWK mengakibatkan degradasi hutan terus ada, bahkan bisa saja semakin meluas, jika tanpa mitagai khusus. Permasalah-permasalahan tersebut kritis dan membutuhkan perhatian serta penanganan intensif. Melalui dukungan dari SIES-Australia, ALeRT bekerjasama dengan Balai TNWK melakukan mitigasi terhadap adanya kebakaran. Selain itu, terkait aktivitas illegal di dalam kawasan, ALeRT melakukan pendataan temuan aktivitas illegal bersamaan dengan kegiatan survey dan monitoring badak sumatera yang didukung oleh TFCA-Sumatera. Pendataan tersebut meliputi jenis aktivitas yang ditemukan, koordinat lokasi, dan intensitas ancaman. Dari data tersebut akan dipetakan dan menjadi rekomendasi lokasi patroli prioritas. Berbagai jenis temuan aktivitas illegal tersebut meliputi aktivitas perburuan berupa jerat satwa, alat memancing, penebangan pohon, gubuk, dan masyarakat yang mengambil rumput di dalam kawasan. Berbagai aktivitas illegal tersebut turut menjadi potensi yang menyebabkan kebarakaran hutan di TNWK, selain luasnya area yang terdegradasi oleh rumput ilalang.

Selama tahun 2015-2017, bersama dengan pihak BTNWK, ALeRT telah melakukan total 7 kegiatan patroli di perbatasan antara TN dan desa Rantau Jaya Udik II untuk memantau aktivitas illegal yang terjadi disekitar kawasan. Pada awal tahun 2017, tim patroli menemukan dan menghancurkan sekitar 25 jembatan kayu di perbatasan TN yang digunakan oleh masyarakat untuk keluar masuk kawasan TN. Berdasarkan temuan tim patroli, penduduk desa Rantau Jaya Udik II memasuki TN untuk mencari pakan ternak, menggembalakan ternak mereka, berburu, memancing, dan mencari burung. Perambahan TN juga dilakukan oleh masyarakat untuk digunakan untuk menanam makanan ternak (Laporan Kegiatan Triwulan VI ALeRT, 2017).


Sosialisasi dan penyadartahuan mengenai pentingnya kelestarian hutan Way Kambas
Upaya melindungi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem TNWK akan sukar dicapai jika faktor utama yang menyebabkan degradasi hutan dan perburuan tidak ditangani. Keberadaan masyarakat di sekitar kawasan TN menjdai tokoh utama yang tidak dapat diabaikan dalam upaya melestarikan dan melindungi TN. Oleh karena itu, sejak 2015, ALeRT bersama dengan otoritas dari TNWK telah membantu masyarakat di desa Rantau Jaya Udik II dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dan membantu masyarakat dalam mengurangi konflik manusia-gajah. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan termasuk sosialisasi kepada masyarakat tentang pelarangan kegiatan ilegal dan pentingnya perlindungan habitat dan keberadaan satwa liar di TNWK, bantuan dalam deteksi dini gajah liar dan pembangunan pos penjaga untuk memantau gajah liar . ALeRT dan TNWK juga melibatkan masyarakat di desa Rantau Jaya Udik II dalam kegiatan reforestasi dan mitigasi kebakaran di dalam TNWK.

Sebelumnya, dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat desa penyangga TNWK, berlatarbelakang konflik gajah-manusia, konsorsium ALeRT-Unila yang juga didukung oleh TFCA-Sumatera melakukan penyadartahuan dan mengembangkan Wisata Desa di desa penyangga Braja Harjosari pada tahun 2013. Desa wisata dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat, dengan asumsi bahwa ketika masyarakat sejahtera, maka kelestarian hutan akan terjaga. Dengan mengangkat potensi desa yang ada, terutama dari segi bentang alam dan budaya, kemudian dikemas dalam paket wisata sederhana namun berkelanjutan, mengubah desa yang rawan konflik menjadi destinasi wisata yang edukatif dan ramah lingkungan.

Melihat pada Desa Braja Harjosari, pengembangan ekonomi alternative dirasa perlu juga dilakukan di Desa Rantau Jaya Udik II dan desa penyangga lainnya. Karena hingga saat ini, kebutuhan ekonomi masih menjadi latarbelakang utama ketergantungan masyarakat pada sumber daya alam TNWK.  Upaya meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat, harus diiringi dengan ide kreatif yang berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat. ALeRT terus berupaya menggali dan mengembangkan potensi yang ada di Desa Ranta Jaya Udik II, dan dalam pelaksanaanya upaya tersebut tidak serta merta mendapatkan hasil positif, kerja keras dan upaya yang telah dilakukan selama ini tetap membutuhkan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak.
Degradasi habitat di kawasan TNWK oleh vegetasi ilalang (Imperata silindrica)
AleRT Bersama masyarakat bergotong royong memasang sirine deteksi dini gajah
Pemasangan drum putar untuk mencegah gajah memasuki areal pertanian warga


Artikel ditulis oleh: Siti Asiyah

Wednesday, March 14, 2018




Way Kambas; Bukan Tempat Wisata Biasa

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan segenap pesona alam dan keragaman satwanya, rupanya tak hanya mengundang para wisatawan, para pelajar dan peneliti pun silih berganti berdatangan. Bukan sekedar jadi tempat wisata hidupan liar yang menarik, TNWK pun merangkap sebagai laboratorium alam yang sempurna bagi para ilmuwan untuk mempelajari dan menggali lebih jauh potensi kekayaan alamnya yang cukup untuk mewakili ekosistem hutan dataran rendah di Pulau Sumatera. Pesona dan keunikan yang dimiliki TNWK telah menarik mata dunia, hingga mendatangkan puluhan pelajar asal Southern Cross University (SCU) Australia yang tergabung dalam grup Wildlife conservation volunteering.

Aksi Volunteering di TNWK 
Sebelumnya, para volunteer turut serta dan mendukung upaya konservasi gajah sumatera di Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK dengan menggalang dana untuk membangun fasilitas penunjang, seperti bak minum, kandang gajah indukan, kanal pelindung kandang gajah anakan dan demplot pakan. Selain itu mereka juga mendirikan beberapa menara pantau di desa penyangga serta di areal demplot pakan gajah. Hal ini menjadi bukti serta dukungan terhadap upaya konservasi di TNWK yang masih menjadi harapan utama bagi dunia untuk tetap lestari dan menjadi rumah bagi satwa liar di dalamnya.

Menengok Mutiara Desa, Penyokong Konservasi di TNWK

Tak melewatkan kesempatan, para volunteer mengunjungi desa penyangga Braja Harjosari yang kini telah menjelma menjadi destinasi wisata yang banyak diminati wisatawan, terumata mancanegara. Tentunya kunjungan mereka mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat.


Dalam beberapa tahun terakhir, tepatnya dimulai pada tahun 2013, Braja Harjosari memang telah menjadi salah satu ‘mutiara desa’ yang menyokong konservasi di TNWK, bersama dengan Konsorsium ALeRT-Unila dalam program TFCA-Sumatera. Sejak saat itu, desa yang akrab disebut Braja H tersebut telah menampakkan ‘kilaunya’ dimata dunia pariwisata. Melalui paket wisata khas pedesaan Indonesia yang juga kental dengan adat budaya Lampung-Bali, Braja H berhasil menciptakan magnetnya sendiri untuk menarik wisatawan lokal maupun internasional. Tak hanya itu, wisata Desa Braja H pun menawarkan pesona bentang alam yang menawan serta berbatasan langsung dengan kawasan TNWK nan kian memesona mata wisatawan. Kini, bukan hal baru lagi bagi masyarakat setempat dengan banyaknya kunjungan wisatawan asing termasuk para pelajar SCU ke desa mereka untuk sekedar menikmati keunikan kampungnya.

Pengambangan wisata di Desa Braja H ini merupakan alternative untuk mengangkat ekonomi masyarakat desa penyangga TNWK secara kreatif dengan memanfaatkan potensi wilayah yang ada. Berkembangnya wisata desa di Braja H akan menjadi model sekaligus impuls yang memicu kreativitas masyarakat desa penyangga lainnya, mengingat TNWK berbatasan dengan 37 desa penyangga.

Dengan terus berkembangnya wisata desa penyangga, kini pesona TNWK kian bertambah. Dengan bertambahnya perhatian dunia terhadap TNWK, diharapkan dapat menjadi kunci untuk meraih tujuan utama ‘menjaga kelestarian ekosistem yang ada di dalamnya’. Terlepas dari segala potensi, keindahan, dan keunikannya, TNWK masih menyimpan banyak hal untuk dipelajari, serta dilindungi.

Artikel ditulis oleh: Siti Asiyah

Monday, February 12, 2018


Elephas maximus sumatranus
Sumatran elephant (Elephas maximus sumatranus) has been categorized into "critically endangered" by the IUCN Red-List. More effort is needed to restore Sumatran elephant population and proportional distribution in wild. Fragmentation and habitat degradation, as well as poaching are the main factors caused declining of elephant population in nature. The existence of elephants is currently divided into three groups: the elephants in their natural habitat, elephants residing in conservation institutions such as zoos and elephants that are placed in the Elephant Training Center (ETC). The government created ETC in 5 locations, among others in Lampung, Bengkulu, Palembang, Riau and Aceh.


In the implementation, ETC management gets various problems. One of the issues that need to be immediately resolved is the availability of feed with adequate quality and quantity. In the principle, government has been provided budget for the procurement of feeds, but the quality and quantity has been not fulfilled yet.

In ETC Way Kambas National Park (WKNP) the elephant get food in two mechanisms, the grazing and additional feed from outside area. In the dry season, the natural feed (grazing) will be decreased, and the additional feed (coconut leaves) should be imported from afar. Making the elephant food farm in ETC area is one of the main alternatives to sufficient of elephants nutrition.  Before the elephant food farm are made, it is necessary to make protective canals for protect plans from wildlife herbivore.

AleRT in collaboration with WKNP and the Save Indonesia Endangered Species (SIES) support partner, already excavates 2.8 hectare protective canal in ETC. The canal is 2x2 meters, built surrounded 20 hectares of land that will be elephant food farm. A water reservoir (that call Embung) between the canal area at large 40 x 20 meters and depth 6 meters has been made. The resevoir function is to hold water in the rain season and to be source of water during the dry season. This activity has began in early November 2017 and finished on 26 December 2017.
the protective canals and water reservoir

In Addition, we also have been made the protective canal of young elephant areas. The canal was intended for keep young elephant from visitor access that may carrier of any parasites. It is a prevention to keep elephant healthy. Young elephant is highly potential parasites infection. Some of young elephant was death it caused parasite infection.

Elephant protective canal
After the activity, ALeRT expects that elephants health and feed in the future can be fulfilled, thus elephants in ETC WKNP live in welfare.

Wednesday, July 30, 2014


Study Ekologi dan Monitoring Satwa Kunci Taman Nasional Way Kambas menggunakan Video Camera Trap.  

“Tenang Pak, hari ini kita pasti dapat video badak..” ucap Pak Darmi (staff PEH Way Kanan, Taman Nasional Way Kambas), ketika tim beristirahat sejenak setelah mengecek dua video camera trap. Entah apa yang membuat ia begitu yakin hari ini kita akan dapat video badak, tapi kata-kata itu cukup menghibur. Suatu hari di minggu kedua Januari 2012 itu memang tim video trap ALeRT, PKHS ( Program Konservasi Harimau Sumatera) dan PEH Balai Taman Nasional Way Kambas telah mengecek dua kamera tapi tidak mendapatkan video satwa megafauna yang diharapkan, sehingga hampir semua nampak kecewa.

Sungguh tidak diduga dan disangka, semua anggota tim seketika bersorak kegirangan dan mengacungkan kedua tangan keatas, ketika video camera ketiga dicek hasilnya. Seekor induk badak sumatera betina dan anaknya melenggang menjauhi kamera, tertangkap video di tanggal 8 Januari 2012. Hebatnya lagi pasangan yang sama kembali melenggang, kali ini mendekati kamera pada tanggal 10 Januari 2012 (gambar kiri).

Wow! Sebuah kejutan yang ditunggu-tunggu. Bayangkan, tidak hanya satu ekor badak tapi sepasang, induk dan anak. Sebuah hasil yang sungguh menakjubkan. Video ini  mengisyaratkan reproduksi badak sumatera liar di Taman Nasional Way Kambas cukup baik. Artinya minimal ada seekor badak jantan yang menjadi bapak dari sang anak badak.

Tak pelak lagi Pak Darmi hari itu diacungi ‘dua jempol’ oleh semua anggota tim karena ‘spirit’ positifnya memberi semangat yang benar-benar mewujud. Sebuah hadiah tahun baru bagi kami semua, setelah 3 trip, inilah pertama kali badak Sumatera nongol di video trap.

Studi Ekologi dan monitoring megafauna Taman Nasional Way Kambas menggunakan video trap saat ini sedang dalam tahap Pra-studi yang dimulai pada bulan Desember 2011 dan selesai Agustus 2012. Periode ini mencakup jeda 2 bulan mengisitirahatkan kamera untuk menghindari kelembaban dan pertumbuhan jamur atau kemungkinan agen perusak lainnya. Tahap ini merupakan fase setting awal  kamera/video trap untuk mengidentifikasi lokasi strategis dan ketinggian posisi kamera relatif terhadap tanah. Karena tiap hewan menggunakan habitat yang berbeda, perangkap kamera dibagi menjadi 5 bidang fokus, yaitu, badak Sumatera, harimau Sumatera, gajah Sumatera, tapir, dan beruang madu. Informasi tentang semua spesies ini dan spesies lain juga dapat berasal dari setiap lokasi kamera.

Proyek yang dijalankan oleh Taman Nasional Way Kambas, ALeRT, dan PKHS ini menggunakan video trap untuk mengambil gambar megafauna dan satwaliar penting lainnya. Dimulai dengan 10 buah Camera Trophy Bushnell milik Taman Nasional Way Kambas (sumbangan Aspinal Foundation melalui Ditjen PHKA), donasi kamera baru datang dari Yayasan Silvagama (2), SIES (4), Asian Rhino Project (5) dan WWF Areas (5). Sedang dana operasional dan peralatan lainnya datang dari SIES, ARP, WWF Areas, dan Bpk. Andri Rukminto.

Sampai Agustus 2012, yang didapat adalah badak 3 video, 16 tapir (termasuk induk-anak, lihat gambar), 23 harimau (termasuk seekor jantan muda dominan – lihat gambar atas), 72 beruang dan 94 video gajah. Satwa langka lain yang menarik adalah otter-civet atau musang air (Cynogale bennettii).


Artikel dan foto atas: Marcellus Adi CTR
Foto satwa dari Video trap: ALeRT-Taman Nasional Way Kambas